Sunday, April 18, 2021

Getting stuck at 25, haven’t married yet : Alasan Ketiga

 

Perlu difikirkan (keturunan). . . . .

Aku tau, bahwa rezeki itu Allah yang datangkan. Bahwa semua makhluk hidup punya rezekinya masing-masing dan bahwa rezeki hanya akan berhenti saat satu makhluk itu meninggal saja.

Aku paham betul betapa banyak kalimat “menikah saja, nanti pintu rezeki akan terbuka” atau “menikah aja, rezeki mah nanti ada aja”. Tentu saja aku paham rezeki akan ada saja, tetapi selama kita mau berusaha serta berdoa kan? Ya, dan aku sedang lakukan sejak sebelum menikah sekarang ini dan tentu perjuangannya sangat luar biasa.

Aku beranggapan, menikah ya memang akan membukakan pintu rezeki tetapi bukan berarti hidup harus selalu berorientasi pada konsep menikah aja rezeki pasti dateng sendiri. Aku wanita yang sudah berusia lebih dari 20 tahun, telah banyak kejadian yang aku alami dan aku saksikan sendiri. Betapa banyak orang-orang yang sudah menikah malah mengeluh kesusahan. Mengeluh suami tak kerja, mengeluh suami malas, mengeluh cicilan a,b,c mengeluh tak punya uang untuk makan atau bercerai karna finansial. Aku tidak menyalahkan pernikahannya, tapi aku lebih menyayangkan kesiapan diri dan mental dari mereka yang demikian.

Bagiku, ketika aku sudah berfikir untuk menikah, maka aku harus sudah memikirkan bagaimana aku bisa mencintai dan menjaga serta membentuk anakku kelak sejak dalam kandungan. Ketika aku sudah berfikir untuk menikah, maka aku harus mulai sadar bahwa menikah bukan perkara saling pandang dari pagi hingga sore kemudian tidur saling berpelukan, ada suami yang harus ku urus, ada rumah dan kehormatan yang harus aku jaga, ada cost yang harus di bayarkan.

Tetapi, yang amat aku tekankan adalah persiapan untuk memiliki keturunan. Memiliki anak memanglah bukan hal yang mudah, namun bukan hal yang sulit juga, karna ada Allah yang Maha Penguasa bukan?. Serta menikah bukan lah hanya tentang, hamil, punya anak, lucu-lucu, bahagia.

Ada cost dan waktu yang harus diberikan serta kesadaran bagi si ibu apalagi si ayah. Si ibu harus menyadari bahwa perkembangan anak saat masih dalam kandungan adalah masa yang paling penting, karena masa itu dimana pembentukan otak dan sel-sel terjadi. Maka sang ibu harus sadar dan paham bahwa apa yang ia makan, maka itu pula-lah yang si calon bayi makan. Karenanya aku menyadari memberi makan si ibu asupan bergizi, bukan berarti memberikan makanan enak-enak hanya kepada ibu saja, namun kepada sang calon bayi, oleh karenanya menurutku peran suami disini amat penting. Ya suami dong, mau siapa lagi? Mertua? Ya kan yang bikin istri dan suami. Setidaknya suami harus paham, jika tidak bisa memberikan perhatian maka jangan pelit untuk menafkahi atau bahkan harus sadar dan berjuang supaya istri bisa makan 4 sehat 5 sempurna. Bagus bagus bisa makan banyak macam buah yang bervitamin, sayuran dan serat-serat lain. Itulah mengapa aku sangat anti dengan laki-laki pemalas, karena bagaimana bisa aku percaya bahwa ia dapat memperhatikan aku dan kebutuhanku jika malas saja dia pelihara?

Karenanya harapanku laki-laki harus paham apa yang dibutuhkan istrinya, dengan melihat kondisi sang istri jangan membiarkan istri menderita. Manja? Tolong ya, itu sudah tugas dan kewajiban anda sejak ijab Kabul selesai. Aku sendiri suka geleng-geleng kepala dengan laki-laki yang tidak ada inisiatifnya. Membiarkan istrinya kesusahan, membiarkan hidup keluarganya begitu-gitu saja. Ya tapi hal ini mungkin bisa dikomunikasikan.

Sebab yang aku tahu menikah bukan hanya soal ketawa ketiwi, wara wiri, tapi harus tau visi satu sama lain dan memastikan ada kah visi kita yang sama dan memastikan adakah jalan tengah bagi visi yang kurang sama dan menoleransinya?

Selain merawat anak dimasa kandungan. Yang perlu di ingat, perjuangan membesarkan anak bukan hanya dari saat dia masih dalam kandungan dan berhenti sampai si anak lahir kemudian selepas lahir mau bagaimana itu urusan belakangan, bukan, itu sangat tidak saya sekali. Bagi aku semua harus punya tujuan, urusan bagaimana menggapai rencana itu flexible saja. Membesarkan anak itu tugas jangka amat panjang. Perlu diingatkan bahwa tanggung jawab orang tua itu sampai anak menikah, selepas menikah ia sudah bukan tanggungan orang tua. Maka sebagai penanggung jawab, setidaknya sudah ada gambaran, bagaimana menerapkan pola didiknya, apa saja yang tidak boleh kita lakukan didepan anak, kita ingin anak kita seperti dan menjadi apa (kepribadiannya), dan hal-hal lain. Mulai dari pola didik ketika masih bayi, hingga sampai dia bisa bicara minimal. Baik-baik sampai dia besar dan mulai membahas rencana tabungan pendidikan.

Pusing ya? Oh iya, tidak ada hidup enak tanpa kerja keras dan perencanaan yang baik serta matang. Aku berfikiran bahwa lebih baik aku pusing-pusing berfikir perencaan di awal alias nyolong start, supaya tidak terlalu pusing di depannya. Sehingga jika ternyata keadaan malah jadi sangat mudah, itu malah menguntungkan dan kita sudah jelas memiliki arah kemana.

Contoh: susah-susah nabung buat pendidikan anak, tau-taunya dapat warisan 100m. Tau gitu ngapain nabung. Wah I think that stupid statement. Mungkin iya perkataan itu bisa terlontar karna sudah dapat warisan 100m, coba engga? Lagi pula tabungan manjadi surplus kan? Misal untuk tabungan pendidikan yang dibutuhkan untuk sampai ke perguruan tinggi adalah 2m sedangkan yang sudah terkumpul adalah 50 juta, maka ya 100m dipotong 2m pun tak masalah bukan? Malah ada surplus 50 juta. (perumpamaannya seperti itu)

 

Belajar dari terdahulu . . . . . . .

Mungkin ada beberapa kata yang bisa menjelaskan penjelasan ku di atas, ribet, menjelimet, planner banget, terlalu perfeksionis.  Ya, aku menyadari itu. Tanpa kita sadari, pola fikir, tata cara perencaan hidup itu terpengaruh pada hal-hal yang kita alami dan kita jumpai dihidup kita.

Aku… dengan pola fikirku seperti yang diatas karena pengalamanku dalam hidup. Aku mengalami pola didikan yang tidak bisa membentukku menjadi anak yang percaya diri salah satunya. Aku juga mengalami dua masalah yang sama dengan jalan yang berbeda. Masalahnya ialah saat aku menginginkan sebuah laptop baru, saat bersama alm, ayah aku saat itu aku masih duduk dibangku kelas satu SMA, laptop menjadi sebuah kebutuhan nyatanya, karena digunakan untuk mengerjakan tugas, presentasi dll. Tak butuh waktu lama kurang dari satu bulan kemudian ayah mengajakku membeli laptop. Tak hanya laptop, saat aku meminta computer-pun sama. Berbeda jauh dengan ibuku, selepas alm ayah tak ada, saat itu aku sangat butuh laptop baru karna saat itu aku sedang mengerjakan skripsi dan laptopku sudah mulai banyak kendala. Butuh perjuangan untuk meyakinkan bahwasannya aku memang sangat butuh laptop itu, terlepas dari beban keuangan yang ia miliki namun aku yakin sesungguhnya tabungan dasar jika dipotong untuk sebuah laptop standarpun bisa tertutupi dengan cepat oleh pemasukan ibu. Namun aku tidak tau apa yang ada dalam benaknya saat itu, hingga aku harus berderai air mata hanya untuk sebuah laptop. Dari pengalaman itu aku belajar, menjadi orang yang pas-pasan dan susah itu tidak menyengkan, sedih dan perih. Sehingga aku ingin anakku tidak merasakan hal demikian. Itulah contoh pengalaman yang aku alami.

Kemudian untuk pengalaman yang aku jumpai. Aku sudah mengajar puluhan anak dengan berbagai background orang tua dan background sekolah. Sangat-sangat mencolok perbedaa, anak yang hanya disekolahkan disekolah milik government dengan sekolah swasta apalagi swatsa plus maupun international. Sangat mencolok apalagi dalam kemampuan berbicara bahasa asing. Salah satu contoh murid SD ku yang bersekolah islam national plus yang berada Tangerang selatan, anaknya sangat aktif, tidak pemalu dan bahkan bagus dalam berkomunikasi dalam bahasa asing. Ketika aku tanya jam berapa biasa ia berangkat kesekolah, ia menjawab pukul 4 subuh. Wwhattt??? Really?? Aku tanya apakah ia berangkat pukul empat karena ikut bersama ayahnya ke kantor. NOPE. Karna disekolah ada program tahfidz jadi sebelum shalat subuh berjamaah, ada hafalan Qur’an. See how to build gold generation in different way?

 

Sama-sama . . . . .

Kerja sama sangat diperlukan. Laki-laki kerjasama dengan mencukupi dan mencari untuk bekal masa depan keluarganya sedangkan wanita kerjasama dengan mengelola apa yang sudah dicari dari laki-lakinya.

Sosok ayah sangat berpengaruh terahadap aku dalam mendoakan pasangan impian. Aku selalu ingat betapa ayah sangat bertanggung jawab terhadap keluarga apalagi aku anaknya. Laki-laki yang tak pernah menolak keinginanku dan selalu berusaha memenuhinya karna apa yang aku pintapun tak pernah yang hanya sekedar untuk gaya atau keren-keren-nan saja.

AKu sangat bersyukur memiliki ayah sepertinya. Bayangkan diluar sana banyak wanita bersuamikan laki-laki yang malas. Yang hanya bersantai-santai saja, yang hidupnya gitu-gitu saja, yang hidup seperti tanpa punya orientasi jelas, yang hidup seperti tanpa usaha maksimal atau bahkan usaha diluar batas kemampuannya. Laki-laki yang bergerak hanya kalau diminta saja. Yang berusaha jika diminta secara mendesak.

Betapa banyak laki-laki yang kerjaannya gitu-gitu saja. Pulang kerja, duduk sebentar, meyesapapi rokok, melamun, ngopi. Namun saat istrinya tak memberinya kopi ia marah, padahal istrinya tidak mampu membeli kopi karna uang bulanan habis. Sementara apa dia pernah bertanya perihal uang belanja?

Tapi aku masih juga mendapati laki-laki yang hampir sangat produktif, seperti ayah. Yang pulang kerja bercengkrama dengan istri dan anak. Duduk bersama menonton TV. Saling bercerita dan bercanda. Memberikan cerita-cerita yang bermoral. Sibukpun sangat bermanfaat, membaca koran, membaca buku ataupun menulis al-Quran . . . . itu ayahku

Banyak juga laki-laki yang pekerja keras. Yang bercita-cita ingin menjadikan istrinya sebagai permaisuri di rumahnya. Ingin memberikan yang terbaik untuk anak istrinya. Sesampai dirumah, ia masih melanjutkan pekerjaan yang lain demi istri dan anaknya.

Semoga aku, kamu dan kita semua mendapat pasangan yang baik dan mau berusaha ya, Aamiin.

Monday, March 22, 2021

Getting stuck 24, welcome 25: Alasan keempat

Lelah . . . . . .

        Mungkin ini akan terdengar berlebihan dan dramatis, namun percayalah walau memang usiaku bisa dibilang cukup muda untuk sebuah pengalaman, aku sudah lelah untuk berjalan mencari cinta. Siapa suruh mencari? Tugas wanita bukankah menunggu? Ya, aku tau, aku menunggu. Tetapi dalam menunggu bukan berarti aku diam saja kan? Beberapa datang dan pergi. Datang pergi dan kembali kemudian pergi lagi.

       Aku sudah lelah, ketika harus bertemu manusia baru. Harus menerka-nerka, harus berusaha membaca kepribadiannya, berusaha mengetahui karakter aslinya, berusaha mengenal emosinya. Memangnya tidak lelah? Ketika sudah nyaman dengan satu orang, tapi ternyata ia memilih pergi. Lelah, sungguh lelah.

 

Lemah . . . . . . .

       Aku ini lemah untuk urusan perasaan, karena memang fitrah wanita ialah perasaan yang lebih mendominasi ditambah ditinggalkan sosok ayah disaat aku masih membutuhkan figurnya, sulit untuk tidak mudah jatuh pada perhatian kecil. Aku menyukai manusia dengan pribadi yang religius, yang mengayomi dan yang melindungi. Ya, seperti wanita pada umumnya bukan? Suka pada sosok yang diyakininya mampu melindungi, mampu memimpin dan mampu memberikan perhatian yang baik padanya. Aku pun sama.

 

Harap yang memang salah

      Dulu, Betapa bahagianya aku. . . . . ., saat mendapati laki-laki yang aku sukai, yang aku harapkan bisa menjadi laki-laki pilihanku, memutuskan menghentikan perjalanan sementara waktu untuk mampir ke masjid menunaikan shalat. Jikalau kau yang berada dalam posisiku, pasti akan bahagia juga bukan? Betapa tenang dan bahagia ku rasakan saat seseorang yang ku harapkan bisa memimpinku ternyata seorang yang taat pada Tuhannya. Namun sayang, ia tidak seperti aku yang mengharapkannya ada dalam hidup. Ia memilih pergi setelah hatiku berharap padanya. Aku tak tau, aku harus bagaimana, memaksanya untuk memilihku bukanlah caraku. Aku pasrahkan saja, mungkin memang aku yang salah menempatkan harap pada makhluk ciptaan Allah.

Saturday, March 20, 2021

Getting stuck 24, welcome 25: Terimakasih pada semua kecewa

Selepas Kecewa. . . . .

        Ya, selepas merasa kecewa karna telah menaruh harapan pada manusia, lagi dan lagi aku hanya bisa kembali mengetuk pintu langit disepertiga malam dan mengadu:

       Ya Allah Rabbku, dalam sujud sakitnya hati ini karna pengharapan yang sirna, aku berusaha meyakinkan hatiku bahwa yang terjadi ini adalah bagian dari doaku padaMu agar diberikan pilihan terbaik dariMu.

       Selama luka dari harapanku itu basah, ada banyak hal yang membuatku menjadi tidak percaya pada diriku. Membuatku rendah diri, merasa tak pantas. Kadang diri ini bertanya-tanya dan menerka-nerka . . . . . . . . 

Apakah aku pantas tak terpilih, karna rupa ku?

Apa kah aku pantas tak terpilih, karna pekerjaanku?

Apakah aku pantas tak terpilih, karna asalku?

Apakah aku ditinggalkan karna perkataanku yang menyakiti?

Apakah aku ditinggalkan karna riasan wajahku?

Apakah aku ditinggalkan karna aku tak berharta banyak?

 

       Berbagai macam pertanyaan muncul dalam benakku namun tak pernah ada jawabnya . Pertanyaan itu malah menyakiti pikiran dan hatiku yang akhirnya berdampak pada kesehatanku. Terus berputar dalam kepalaku, membuatku merasa menjadi manusia tak bernilai. Semua kecewa dan pertanyaan-pertanyaan membuat ku merasa aku manusia yang tak pantas untuk diperjuangkan, dicintai dan dimiliki.

      Hingga akhirnya luka ku mengering dan sembuh, semua pertanyaan yang awalnya tak pernah ada jawabnya, kini telah kutemukan jawabannya. Jawabannya ialah aku “BELUM” menemukan orang yang cocok dan tepat.

       Kini, ditinggalkan mendorongku untuk terus memuhasabah diri, memperbaiki diriku, iman dan akhlakku, berusaha terus menjalankan apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa yang Allah larang, walau tak bisa secara menyeluruh dan sempurna tapi aku akan berusaha. Aku menyadari, mungkin memang caraku mencari pendamping hidup yang salah, hingga Allah marah dan menjauhikanku dengan mereka dengan cara demikian, tak apa.

 

Sebenar dari sebenarnya . . . .

       Kini, sudah sampailah tulisan ini pada bagian terakhir dari semua alasan-alasan mengapa aku belum juga menikah. Bukan, bukan tak ingin. . . . 35% tentu saja aku ingin, 15 persen aku bimbang, sisanya takut. To be honest, lagian aku belum punya calon ya hehe. Jadi belum ada yang bisa membuat aku berfikir, nikah gak ya?. So, ya aku harus tetap berdo’a hehe.

 

Pada akhirnya . . . .

       Pada akhirnya, ada pembelajaraan dari setiap kecewa yang aku rasakan. Pembelajaran bahwa Allah sedang menyelamatkanku dari rencanaku yang mungkin bisa berdampak buruk pada nasibku. Dari kecewa itu pula aku belajar, bahwa sebaik-baiknya menunggu adalah dengan mempersiapkan diri menjadi lebih baik lagi. Lagipula ada banyak hal yang bisa aku kerjakan dalam kesendirian ini, misal seperti meningkatkan kemampuanku dalam bidang yang aku kuasai, ataupun mencoba hobi dan pengalaman baru, dan bisa juga mempersiapkan diri untuk apa yang sedang ditunggu.

        Yah, kali ini aku rasa akan lebih baik jika selain aku berdoa dan meminta pendamping hidup dengan kriteria yang aku maksudkan pada Allah, aku akan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dan menjadi wanita yang memiliki kriteria yang sama seperti kriteria pendamping hidup yang aku maksud, agar benar-benar jodoh selain melengkapi tapi juga cerminan diri, Aamiin.

        So, say good bye pada hati yang kecewa karna dilukai oleh harapan terhadap manusia. Bismillah semoga Allah benar-benar berikan aku jodoh yang baik, yang membuat aku yakin bahwa dia yang tidak akan menyakitiku dan menyianyiakan aku. AAMIIN.


Saturday, March 14, 2020

The Dad's stuff


      Beliau yang selalu ku panggil abi ini lahir di Ujung Pandang tujuh puluh tahun silam. Sangat lama bukan? Yap memang. Abi memiliki postur tubuh yang cukup tinggi, saat itu aku masih duduk dibangku SMP jadi tinggi ku belum melebihi tingginya. Abi memiliki rambut yang tipis dan ada sedikit kebotakan pada bagian atas kepalanya. Wajah abi tidak rupawan, terdapat banyak darah beku di beberapa titik wajahnya.

     Abi merupakan orang paling rapih versi ku. Ia tidak pernah menggunakan baju model apapun apapun kecuali kemeja, percaya?. Aku baru menyadari bahwa di seluruh lemari baju tidak pernah ku temui kaos lengan pendek maupun panjang miliknya. Semua yang tergantung adalah kemeja, kaos pun yang tersedia hanya untuk pakaian dalam. Abi selalu pergi kerja dengan menggunakan kemeja, padahal pekerjaannya bermain dengan oli dan mesin-mesin. Selain itu ketika pulang kerumah dan bersantai, mungkin sebagian orang akan memilih baju berbahan kaos dengan celana pendek, tapi abi tidak. Ia memilih kemeja berbahan satin lembut dan celana bahan hitam. Aku tidak tau mengapa, yang aku sadari beliau amatlah sangat rapih tak pernah aku melihatnya menggunakan kaos dengan celana pendek sekalipun. Yang ada dalam saku bajunya adalah sisir dan sapu tangan. Begitu rapih dan bersihnya, beberapa sapu tangan tersusun di lemari baju. Dari sini aku tau, tampil rapih dan tampil berlaga kaya itu beda. Rapih itu menjaga, tapi berlaga kaya itu memaksa. Tidak harus branded, asal bagus dan bersih. Tidak harus branded yang penting cocok dan pas.

       Kebiasaaan. Abi memiliki kebiasaan yang amat sangat tertata. Saat itu handphone abi hanya bisa digunakan untuk mengirim pesan dan bertelefon. Abi tidak pernah menggunakan waktu senggangnya seperti anak-anak jaman sekarang. Waktu senggangnya digunakan untuk membaca buku. Terkadang beliau terbangun pukul dua malam dan memilih untuk membaca atau menghafal hadist di mejanya. Beliau selalu bangun sebelum subuh dan kemudian membangunkan kami ataupun sebaliknya. Abi selalu membangunkan ku berkali-kali jika aku tak kunjung bangun untuk shalat Subuh 😊. Di pagi hari sebelum pukul tujuh abi biasanya sudah mandi dan bersiap untuk pergi ke tempat kerja. Biasanya beliau menyuruh aku untuk membersihkan mobilnya, terkadang aku mengecek air radiator dan kondisi oli dan kondisi ban juga😊. Abi biasanya berangkat pukul tujuh tigapuluh kemudian pulang pukul 11.30 untuk shalat Dzuhur dan makan siang. Kemudian beliau akan tidur sejenak dan berangkat kembali pukul satu. Pukul empat tiga puluh beliau biasanya sudah pulang. Ketika pulang beliau biasanya menyempatkan diri untuk menonton TV bersama keluarga dan Shalat Maghrib berjamaah. Selepas shalat Maghrib, biasanya beliau berbalik badan dan memimpin kami berdo'a kemudian saling bersalaman. Hal itu aku yakini yang merekatkan hati kami satu sama lain, sehingga ketika berpisah rasanya begitu menyakitkan. Setelah shalat abi biasanya duduk di depan mejanya untuk membaca buku dan menghafal beberapa ayat Al-Quran kemudian makan malam. Abi jarang memutuskan untuk tidur larut malam walaupun ada pertandingan club sepak bola favoritnya hehe. Aku menyadari, bahwa hidup tertata itu perlu dan juga memanfaatkan waktu luang dengan baik itu amat perlu.

    Abi bukan orang yang senang berfoya foya tidak jelas tanpa tujuan. Beliau memang senang jalan-jalan tetapi dengan keluarga. Jikalau dirasa ia butuh berbincang dengan temannya, ia akan datang kerumahnya untuk bertamu atau sebaliknya. Hampir di setiap hari Minggu abi selalu menyempatkan waktu untuk pergi ke toko buku bersama aku dan umi atau hanya sekedar makan nasi goreng di food court. Tapi kami menikmatinya, tanpa perlu merasa gengsi ataupun rasa rasa lainnya. Abi penyuka buku, sudah puluhan buku tertata di dua lemari berkaca. Abi bahkan rela mengeluarkan uang ratusan ribu yang biasa mungkin kita bisa mendapat 2 potong pakaian branded, abi gunakan untuk membeli buku. Selain buku, kami pun selalu berlangganan koran dulu. Hampir setiap hari kami tak pernah absen membaca koran. Abi selalu menerapkan literasi sejak dini dengan cara-cara yang halus. Kini aku menyadari, bahwa apa yang dilakukannya adalah untuk kebaikan kami. Baginya memberikan contoh dan praktik literasi dari diri sendiri lebih baik dibanding berkoar koar menyuruh orang lain berliterasi.

     Kemewahan. Abi tidak pernah berusaha untuk tampil mewah. Abi menggunakan sesuatu jika ia rasa “nyaman” dan “layak” serta "butuh". Abi jarang membeli kemeja, ia pun tetap menggunakan kemeja yang sisi lengannya sudah terkena percikan oli. Beliau bukan orang yang selalu mengikuti trend. Memang kolot, tapi itu menjadi lebih simple dibanding harus selalu mengikuti gaya yang akan selalu berubah. Begitupula dengan handphone dan kendaraan. Abi saat itu memilih membeli mobil keluaran tahun 96 dibanding mobil baru. Kenapa? Bukan karna ia tak mampu, aku tau dia mampu membeli kendaraan tahunan yang lebih muda atau bahkan baru tetapi abi tidak mau terlilit hutang cicilan. Mungkin bagi orang mobil kami kuno dan tidak baru, tapi kami tenang tanpa memikirkan cicilan apapun. Motor yang kami punya pun hanya satu yang didapatkan dengan cara cicilan karna saat itu keadaan ekonomi sedang tidak begitu stabil. Satu motor lagi yang ku pakai untuk bersekolah abi bayar kontan Alhamdulillah. Kami hidup tidak di bawah cicilan apapun, walau rumah saat itu masih mengontrak tapi kami merasa bahagia saat itu. Kacamata abi pun bukan kacamata dari optic yang berharga jutaan. Abi bahkan selalu mengelem kembali tangkai kacamata yang patah. Ia memilih mengakali kamacata yang patah tangkainya dibanding dengan membeli yang baru. Aku tak tau, yang pasti aku yakin saat itu ia bahkan mampu membeli sepuluh kacamata yang sama. Beliau hanya berfikir selama masih bisa diperbaiki mengapa harus diganti? Beliau juga merasa malas untuk pergi dan menunggu yang mana akan wasting time nya sekali. Dari ini semua aku sadar, ketenangan itu amat nomor satu dibanding dengan dorongan gengsi.
    
    Hidup sehat. Abi memang tidak berbadan bugar seperti binaragawan tapi abi menerapkan pola hidup dengan cara memakan makanan yang lumayan sehat. Jarang sekali abi makan tidak dengan sayur, beliau selalu meminta untuk dihidangkan sayur, ikan atau ayam dan buah buahan serta susu. Di meja dekat tempat tidur dan di meja kerja beliau selalu tersedia satu gelas besar air putih. Buah kesukaannya adalah pear,anggur dan kurma. Kurma dan kismis adalah dua buah yang senang sekali di buru di tanah abang hehe 😊. Abi jarang sekali  makan indomie ataupun ayam richeese hehe bahkan tidak pernah. Dari itu aku belajar, abi menjaga apa yang masuk kedalam perutnya agar tidak ada malas yang bersarang dalam dirinya.

    Lima belas maret, enam tahun lalu. Abi pergi meninggalkan aku den keluarga semuanya. Tanpa ada pesan apapun. Hari itu hari yang amat berat bagiku, hari dimana aku harus kehilangan satu pegangan dalam hidupku. Hari itu aku menangis tanpa jeda, di hari selanjutnya aku berhenti menangis dan mencoba tegar. Secepat itu? Tentu tidak. Aku menimbun luka kehilangan agar terlihat tegar, tapi ratusan malam menjadi saksi aku terus menumpahkan air mataku. Hampir di setiap air mata aku mengucap ingin bertemu dan ikut bersamanya. Bodoh memang terdengarnya, tapi percayalah. Itu kelak yang akan kau ucapkan ketika kau sudah jatuh cinta dan dicintai begitu dalam. Hari demi hari aku lalui dengan terus berusaha menerima bahwa kepergiannya adalah sebuah kehendak Tuhan.

    Abiku, mungkin ucapan terimakasihku tak akan berguna disini. Tapi aku ingin tetap menyimpan ini sebagai tanda bahwa aku begitu mencintaimu dan hanya kau yang pantas aku tangisi setelah Tuhanku dan ibuku. Aku ingin agar kelak ketika ingatan ku memudar, ketika anakku bertanya tentang kakeknnya, aku bisa menjelaskan tanpa harus bercerita langsung. Maafkan aku yang terlalu larut dalam rasa kehilangan sehingga lupa apa yang kau contohkan dan terapkan di keluarga kita dulu adalah modal waktu yang amat berharga darimu.

    Terimakasih bi, sudah mencintai anak wanitanya begitu dalam, Engkau tak akan pernah terganti oleh siapapun dan oleh apapun. Semoga Allah kumpulkan aku dan engkau di surga nanti layaknya kita di dunia dulu. Aamiin




Ini adalah kacamata abi. See, dua tangkai yang di gulung oleh benang :) hehe abi abi.




Ini adalah dasi abi yang biasa di pakai ke acara formal. Dasi abi ini cuma satu dari dulu tidak pernah ganti maupun hilang.

Saturday, February 8, 2020

For My Endless Love

Aku tidak tau, sudah berapa kali aku meninggalkannya…


Sudah berapa kali aku mengecewakannya…..
Sudah berapa kali aku menyakitinya…..

Namun ia selalu menerimaku kembali….
Memelukku kembali…..
Menyayangi ku kembali dengan rasa yang lebih dalam…

Selama ini mataku terbuka…namun semua terlihat gelap
Selama ini ragaku bergerak…. namun rasanya sempit
Ternyata…….
Ada mata lain yang tertutup
Ada raga lainku yang terikat

Dia adalah batin dan jiwaku….

Maafkan aku….
Maafkan aku….

Aku adalah dia yang tak mampu mengungkapkan
Aku adalah dia yang tak mampu membisikkan
Aku adalah dia yang tak pernah mampu menggambarkan…..

Jika nanti Tuhan mengambilmu lebih dulu di banding aku…..
Tak ada hal lain yang bisa aku lakukan selain mengenangmu…
Mendatangi tempat istirahat terakhirmu….
Mendo’akanmu… dan berharap segera bertemu denganmu

Namun jika nanti Tuhan yang mengambilku lebih dulu…..
Cukuplah do’akan aku…. berbahagialah… karna bebanmu berkurang saat itu…

Untuk umi ku yang tampak tak ku sayangi….
Setelah ku sadari hampir semua pernah mengecewakan….
Aku temukan satu manusia yang berbeda….
yaitu Itu dirimu….

Aku tau, semua yang kau berikan tak akan bisa aku kembalikan….
Tak akan bisa aku ganti….
Apalagi aku bayar….

Maka izinkan lah aku untuk memberikan apapun yang bisa kuberikan padamu selagi engkau ada dan selagi aku diberi kesempatan

Dua puluh tahun sudah engkau berusaha, agar aku tetap terjaga…
Aku yakin, yang kau lakukan bukan semata-mata untuk dirimu…
Namun untukku juga…..

Saat ini, rasa cintaku amat besar.....hingga ingin rasanya ku beli kebahagiaan yang abadi untuk mu .....walau harus ku korbankan jiwaku…aku bersedia…
Setelah jatuh bangun kita lalui bersama, aku rasa…kau pantas mendapatkan jika hal itu ada

…. Tak ada suatu hubungan apapun tanpa ujian bukan? Karna ujian ada untuk mengukur seberapa besar cinta dan keyakinanmu bukan?
Maka, jika satu saat nanti aku berubah… maafkan aku… dan jika kau menolakku untuk kembali………………..


Mungkin itu akhir dari sabarmu…. Dan akhir dari lelahmu…….


Tapi aku berharap, tidak akan lagi aku pergi dan tidak akan lagi aku berubah hanya untuk sesuatu yang semu…. Semoga…. Aamiin.

A video.... for you..........
RUMPANG
by Nadin Amizah
Well, maaf ya aku masih suka sama musik. Tapi gatau kenapa lagu ini indah liriknya, gak terlalu frontal tapi gak terlalu bersembunyi. Awalnya ketemu lagu ini di beranda Youtube, hal jelek yang selalu aku lakuin sebelum nonton video Youtube adalah "baca komen". So, aku baca beberapa komen yang isinya curhat tentang kehilangan orang tua gitu. Saat itu aku cuma ,"Okelah, ini berarti tentang kehilangan orang tua gitu" dan aku tetep masih mau nonton video itu.

 Awal nya video itu isinya cuma aktivitas seorang anak kecil yang semuanya dia lakuin cuma sama boneka teddy bear. Awalnya aku mikir... "oh, mungkin orang tuanya kerja pergi pagi pulang malem, terus dia jadi ga ada temen, yaudah mainnya sama boneka".

 Udah gitu aja, terus aku coba buat hayatin semua video itu sambil dengerin liriknya. Liriknya agak bikin bingung gitu sih, karna kan rata2 lagu seringnya tentang patah hati sama pasangan ya (HAHAHA) tapi ini beda. Ada lirik, "Sudah kuucap semua pinta....Sebelum kumemejamkan mata....Tapi selalu saja kamu tetap harus pergi." Well, aku disini mikir, "ha? apa orang tuanya ga perduli dia gitu ya? kerja..kerja kerja.....". 

Saat itu aku masih terus nonton dan tetep dengerin dengan khidmat macem dengerin ceramah :(. Barulah ketika masuk ke reff kedua... pada lirik,"Banyak yang tak ku ahli......Begitu pula menyambutmu pergi.....Banyak yang tak ku ahli......Begitu pula menyambutmu pergi.....Banyak yang tak ku ahli......Begitu pula menyambutmu tak kembali....".

itu bener-bener hantaman keras banget buat aku sampe ke hati. Secara lirik kalau kita dengerin doang tanpa liat MV (music video) itu akan ngira liriknya buat patah hati ke pasangan. Tapi purpose dari lagu ini tu bukan kesitu, melainkan ke orang tua..especially disini ibu sih. Apalagi pas lirik itu.... di MV nya, semua kegiatan yang anak ini lakuin bareng tedy bear di awal,,,,di puter ulang,...tapi tedy bearnya disitu berubah jadi sosok ibu....wah pokoknya lebih seru nonton dibanding dinarasiin. Value yang bisa gue petik dari MV itu adalah kepergian ibu ga bisa di gantiin dengan apapun sekalipun itu dengan hal yang kita senangi. Mungkin kita akan bahagia bisa mencapai apa yang dicapai, tapi itu bakal kerasa rumpang kalau kita menikmati pencapaian kita cuma sendiri. ah intinya gitu lah wqqwq

Pagi tadi aku masih menangis
Ada rasa yang tak kunjung mati
Ada seseorang di atasku
Menahan semua rasa malu
Sempat kuberpikir masih bermimpi
Dua Empat Tujuh tanpa henti
Matahari dan bulan saksinya
Ada rasa yang tak mau hilang
Aku takut sepi. Tapi yang lain tak berarti
Katanya mimpiku kan terwujud
Mereka lupa tentang mimpi buruk
Tentang kata "Maaf, sayang aku harus pergi."
Sudah kuucap semua pinta
Sebelum kumemejamkan mata
Tapi selalu saja kamu tetap harus pergi
Sempat kuberpikir masih bermimpi
Bertahun berlanjut tanpa henti
Kulitmu yang memudar saksinya
Tetap rasaku tak pernah hilang
Aku takut sepi tapi yang lain tak berarti
Katanya mimpiku kan terwujud
Mereka lupa tentang mimpi buruk
Tentang kata "Maaf, sayang aku harus pergi."
Sudah kuucap semua pinta
Sebelum kumemejamkan mata
Tapi selalu saja kamu tetap harus pergi
Banyak yang tak ku ahli
Begitu pula menyambutmu pergi
Banyak yang tak ku ahli
Begitu pula menyambutmu pergi
Banyak yang tak ku ahli
Begitu pula menyambutmu tak kembali
Katanya mimpiku akan terwujud
Mereka berbohong, mimpiku tetap semu
Sumber: Musixmatch
Lirik Rumpang © Pt.massive Music Entertainment

Awal Sebuah Perjalanan

November 2023 Aku kembali membuka laman Instagramku. Puasa sebulan dari sosial media tersebut membuatku sedikit berlega diri. Di usia yang s...