Saturday, February 8, 2020

For My Endless Love

Aku tidak tau, sudah berapa kali aku meninggalkannya…


Sudah berapa kali aku mengecewakannya…..
Sudah berapa kali aku menyakitinya…..

Namun ia selalu menerimaku kembali….
Memelukku kembali…..
Menyayangi ku kembali dengan rasa yang lebih dalam…

Selama ini mataku terbuka…namun semua terlihat gelap
Selama ini ragaku bergerak…. namun rasanya sempit
Ternyata…….
Ada mata lain yang tertutup
Ada raga lainku yang terikat

Dia adalah batin dan jiwaku….

Maafkan aku….
Maafkan aku….

Aku adalah dia yang tak mampu mengungkapkan
Aku adalah dia yang tak mampu membisikkan
Aku adalah dia yang tak pernah mampu menggambarkan…..

Jika nanti Tuhan mengambilmu lebih dulu di banding aku…..
Tak ada hal lain yang bisa aku lakukan selain mengenangmu…
Mendatangi tempat istirahat terakhirmu….
Mendo’akanmu… dan berharap segera bertemu denganmu

Namun jika nanti Tuhan yang mengambilku lebih dulu…..
Cukuplah do’akan aku…. berbahagialah… karna bebanmu berkurang saat itu…

Untuk umi ku yang tampak tak ku sayangi….
Setelah ku sadari hampir semua pernah mengecewakan….
Aku temukan satu manusia yang berbeda….
yaitu Itu dirimu….

Aku tau, semua yang kau berikan tak akan bisa aku kembalikan….
Tak akan bisa aku ganti….
Apalagi aku bayar….

Maka izinkan lah aku untuk memberikan apapun yang bisa kuberikan padamu selagi engkau ada dan selagi aku diberi kesempatan

Dua puluh tahun sudah engkau berusaha, agar aku tetap terjaga…
Aku yakin, yang kau lakukan bukan semata-mata untuk dirimu…
Namun untukku juga…..

Saat ini, rasa cintaku amat besar.....hingga ingin rasanya ku beli kebahagiaan yang abadi untuk mu .....walau harus ku korbankan jiwaku…aku bersedia…
Setelah jatuh bangun kita lalui bersama, aku rasa…kau pantas mendapatkan jika hal itu ada

…. Tak ada suatu hubungan apapun tanpa ujian bukan? Karna ujian ada untuk mengukur seberapa besar cinta dan keyakinanmu bukan?
Maka, jika satu saat nanti aku berubah… maafkan aku… dan jika kau menolakku untuk kembali………………..


Mungkin itu akhir dari sabarmu…. Dan akhir dari lelahmu…….


Tapi aku berharap, tidak akan lagi aku pergi dan tidak akan lagi aku berubah hanya untuk sesuatu yang semu…. Semoga…. Aamiin.

A video.... for you..........
RUMPANG
by Nadin Amizah
Well, maaf ya aku masih suka sama musik. Tapi gatau kenapa lagu ini indah liriknya, gak terlalu frontal tapi gak terlalu bersembunyi. Awalnya ketemu lagu ini di beranda Youtube, hal jelek yang selalu aku lakuin sebelum nonton video Youtube adalah "baca komen". So, aku baca beberapa komen yang isinya curhat tentang kehilangan orang tua gitu. Saat itu aku cuma ,"Okelah, ini berarti tentang kehilangan orang tua gitu" dan aku tetep masih mau nonton video itu.

 Awal nya video itu isinya cuma aktivitas seorang anak kecil yang semuanya dia lakuin cuma sama boneka teddy bear. Awalnya aku mikir... "oh, mungkin orang tuanya kerja pergi pagi pulang malem, terus dia jadi ga ada temen, yaudah mainnya sama boneka".

 Udah gitu aja, terus aku coba buat hayatin semua video itu sambil dengerin liriknya. Liriknya agak bikin bingung gitu sih, karna kan rata2 lagu seringnya tentang patah hati sama pasangan ya (HAHAHA) tapi ini beda. Ada lirik, "Sudah kuucap semua pinta....Sebelum kumemejamkan mata....Tapi selalu saja kamu tetap harus pergi." Well, aku disini mikir, "ha? apa orang tuanya ga perduli dia gitu ya? kerja..kerja kerja.....". 

Saat itu aku masih terus nonton dan tetep dengerin dengan khidmat macem dengerin ceramah :(. Barulah ketika masuk ke reff kedua... pada lirik,"Banyak yang tak ku ahli......Begitu pula menyambutmu pergi.....Banyak yang tak ku ahli......Begitu pula menyambutmu pergi.....Banyak yang tak ku ahli......Begitu pula menyambutmu tak kembali....".

itu bener-bener hantaman keras banget buat aku sampe ke hati. Secara lirik kalau kita dengerin doang tanpa liat MV (music video) itu akan ngira liriknya buat patah hati ke pasangan. Tapi purpose dari lagu ini tu bukan kesitu, melainkan ke orang tua..especially disini ibu sih. Apalagi pas lirik itu.... di MV nya, semua kegiatan yang anak ini lakuin bareng tedy bear di awal,,,,di puter ulang,...tapi tedy bearnya disitu berubah jadi sosok ibu....wah pokoknya lebih seru nonton dibanding dinarasiin. Value yang bisa gue petik dari MV itu adalah kepergian ibu ga bisa di gantiin dengan apapun sekalipun itu dengan hal yang kita senangi. Mungkin kita akan bahagia bisa mencapai apa yang dicapai, tapi itu bakal kerasa rumpang kalau kita menikmati pencapaian kita cuma sendiri. ah intinya gitu lah wqqwq

Pagi tadi aku masih menangis
Ada rasa yang tak kunjung mati
Ada seseorang di atasku
Menahan semua rasa malu
Sempat kuberpikir masih bermimpi
Dua Empat Tujuh tanpa henti
Matahari dan bulan saksinya
Ada rasa yang tak mau hilang
Aku takut sepi. Tapi yang lain tak berarti
Katanya mimpiku kan terwujud
Mereka lupa tentang mimpi buruk
Tentang kata "Maaf, sayang aku harus pergi."
Sudah kuucap semua pinta
Sebelum kumemejamkan mata
Tapi selalu saja kamu tetap harus pergi
Sempat kuberpikir masih bermimpi
Bertahun berlanjut tanpa henti
Kulitmu yang memudar saksinya
Tetap rasaku tak pernah hilang
Aku takut sepi tapi yang lain tak berarti
Katanya mimpiku kan terwujud
Mereka lupa tentang mimpi buruk
Tentang kata "Maaf, sayang aku harus pergi."
Sudah kuucap semua pinta
Sebelum kumemejamkan mata
Tapi selalu saja kamu tetap harus pergi
Banyak yang tak ku ahli
Begitu pula menyambutmu pergi
Banyak yang tak ku ahli
Begitu pula menyambutmu pergi
Banyak yang tak ku ahli
Begitu pula menyambutmu tak kembali
Katanya mimpiku akan terwujud
Mereka berbohong, mimpiku tetap semu
Sumber: Musixmatch
Lirik Rumpang © Pt.massive Music Entertainment

Saturday, February 1, 2020

Nov, See You in the Heaven


    Aku membaca teks pesan masuk berkali-kali di panel notifikasi handphoneku. Secepat itu? Apakah pesan ini salah ketik?. Aku masih tak pecaya, rasanya baru kemarin, rasanya baru kemarin kami pergi bersama mencari buku, rasanya baru kemarin kita bertemu dan bergurau.

    Ya, teman seperjuanganku telah berpulang kepangkuan Sang Khalik. Dia teman yang kukenal sejak tiga tahun lalu. Teman satu kelas sejak awal masa perkuliahan.

   Pagi hari ini kami diguyur sedikit gerimis dan yang tersisa adalah genangan air di sepanjang jalan. Kami berangkat menuju rumah duka dengan harapan bisa melihat wajah teman kami yang terakhir kali.

Hatiku terasa pilu….
“kawan, kau tak pernah bercerita tentang rumahmu, kita tak pernah berkunjung ke rumahmu sekalipun..tapi kenapa…kunjungan yang pertama ini justru menjadi kunjungan yang terakhir pula?”

“kawan, engkau sungguh baik, mempertemukan kami yang lama tak berjumpa dirumahmu”

“kawan, sepertinya tugasmu sudah selesai di bumi ini, saatnya kau pulang jangan lupa titipkan salam kami pada sang Pencipta”

   Langit tak begitu cerah namun tak juga menurunkan hujan. Sepertinya langit tahu hajat kami berjalan dari rumah hendak kemana.

    Kami berjalan menyusuri tangga, satu persatu menapakan kaki ke anak tangga secara perlahan. Tampak orang-orang sudah berkumpul, menyalami seorang wanita paruh baya yang terlihat sembab matanya. Wanita itu tampak sudah lelah, sudah berpasrah.

    Ingatanku memutar kembali klise-klise yang pernah terjadi lima tahun lalu. Hari dimana langit terasa runtuh. Hari dimana suasana rumah begitu ramai, silih berganti orang-orang berdatangan. Kami seperti sedang merayakan hari besar, ya… hari besar yang tak pernah terlupakan. Tak sedikit yang menghampiri kemudian bersalaman dan memelukku sembari berkata bahwa aku harus kuat dan aku harus sabar. Tak ada kalimat Panjang yang bisa ku ucapkan untuk membalas semua harapan mereka, hanya tangis dan anggukan saja yang kuberikan.

    Mungkin hal yang sama yang bisa wanita itu berikan kepada kami dan kami pun hanya bisa berkata hal yang sama pula. Kami menyalami beliau yang sedang berusaha tegar dengan ujian ini.

    Waktu pemakaman telah tiba. Aku berjalan mendekat menuju liang lahat. Sejak awal kabar tak membahagiakan ini tersiar, sempat beberapa kali air mengurai air mataku, hingga kini ia hendak dimakamkan aku masih terus menghujani kelopak mataku ini.

   Sebenarnya seluruh tangisku bukan hanya menangisi engkau temanku, aku menangisi nasibku sendiri.

   Jika Tuhan memanggilmu tanpa harus menunggu dirimu menua, lalu bagaimana aku? Aku bahkan baru selangkah berjalan menuju kebaikan, selangkah bertaubat atas segala dosa dosaku, lalu bagaimana jikalau Tuhan juga memanggilku setelah mu?

   Selama ini aku takut jikalau harus melihat film hantu, lalu bagaimana saat nanti kau kirimkan malaikat pencabut nyawamu kepadaku?

   Selama ini aku selalu merengek jika jariku terluka, lalu bagaimana saat nanti Kau tarik rohku dari jasadku ini? Orang selalu berkata terasa sakit seperti dikuliti, tertusuk saja aku menjerit.

   Selama ini aku selalu takut terhadap binatang tanah, lalu bagaimana saat nanti tubuhku mulai dirayapi mereka?

     Selama ini aku selalu merawat diriku, membersihkan tubuhku, lalu bagaimana saat nanti tubuhku mulai dihinggapi binatang tanah? Yang kemudian perlahan membusuk dan memburuk

     Selama ini aku selalu menutup hidungku saat bau tak sedap lewat dihadapanku, lalu bagaimana jika tubuhku sendiri yang mengeluarkan bau itu?

    Aku menangisi semuanya. Kemudian tersadar, bahwa yang bisa menyelamatkanku hanyalah amal kebaikanku. Ya Allah panjangkanlah umurku, berkahi hidupku, ampuni dosaku. Aamiin

    Aku mulai berfikir bahwa mencintai diri sendiri itu penting dibanding pekerjaan. Saat kau meninggal, pegawai lain bahkan atasanmu hanya akan bersedih satu, dua dan seminggu saja namun keluarga selamanya. Saat kau meninggal, atasanmu tidak akan berdiam saja, dia akan langsung mencari penggantinya tapi tidak dengan keluargamu.


So, let’s love ourselves!

Monday, December 30, 2019

Untold Mind: Komitmen?



     Assalamualaikum! HI readers! Well, kali ini aku mau berbagi cerita dan tentunya ngajak diskusi dengan kalian semua ini lewat tulisanku menuju 2020 ini. Kenapa aku baru ngebut nulis dibulan Desember ini? Karena selama berbulan-bulan kemarin aku harus struggling dengan banyak hal dan aku rasa aku baru bisa share sekarang.

      Baik, aku mulai dengan kata “KOMITMEN”. Ada yang tau? Mungkin temen-temen yang lagi baca ini yang kebetulan umurnya disekitaran 20-an ke atas bakal lebih sering denger kata ajaib ini. Apalagi kalau kalian udah mulai pacaran (hAhA). Saat ngetik ini usiaku udah bukan tujuh belasan lagi tapi udah 20++ (lolos batas usia nonton sensor hehe). Di usiaku yang segini, tentunya udah bukan hal asing lagi denger kata ajaib itu. Hampir beberapa kali kalau aku lagi denger curhatan temen tentang percintaan mereka, pasti adalah kata ajaib ini muncul.

    Oke, Komitmen itu apa? Menurut KBBI IV yang ada di smartphoneku, Komitmen adalah kata benda yang berarti perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu; kontrak: atau bisa juga tanggung jawab. Kita udah dapet definisi ini dan apa sih, siapa sih yang mempunyai komitmen ini atau siapa yang melakukan perjanjian atau kontrak atau tanggung jawab? Yap, dari beberapa case ku ini yang melakukan perjanjian atau kontrak adalah seorang pria lajang (ngakunya) dan wanita lajang juga.

     Beberapa survey (aku tanya temenku) menurut mereka, komitmen dan pacaran itu beda, tidak satu paket. Sebenernya males banget bahas ini, karna pacaran itu tidak dibenarkan dan komitmen dalam pacaran itu maya. Jadi kata mereka, pacaran itu adalah sebuah hubungan yang gak ada tujuannya, jadi semacam “jalanin aja” tapi kalian tetap dalam satu ikatan yang mana kalian gak boleh saling curang alias selingkuh. Tapi tetep, kalian cuma jalan-jalan, makan, nonton, ketawa ketiwi, main gapleh, monopoli, main Hago, main gundu dan seneng-senneg aja. Walau memang kalian sering saling curhat tentang sehari-hari, suka duka maupun apapun. Sedangkan komitmen adalah ketika kalian itu menjalankan sebuah hubungan dengan tujuan yang jelas, misalnya “menikah” (umumnya tujuannya ini). Jadi pas kalian udah meresmikan bahwa kalian ini berkomitmen, maka disitu kalian gabisa dan gaboleh melanggar (istilahnya perjanjian gitu) apa yang udah kalian sepakati untuk di jauhi dan di patuhi untuk mencapai suatu tujuan yang sudah di tetapkan bersama sebelumnya. Mungkin kalau dianalogikan itu kayak kalian sekolah, punya peraturan dan kalau kalian melanggar ya kena sanksi. Tapi kalau di sebuah komitmen,ketika kalian melanggar ya biasanya kalian tidak bisa lagi bersama untuk satu tujuan alias ambyarrrr komitmennya.

       Komitmen, ngucapinnya mudah banget tapi awas… implementasinya sangat sulit. Makanya, saat temen-temenku yang usia 20-an itu sering banget bilang “komit…komit..komit” aku ngerasa geli aja. Karena menurut pandanganku, komitmen itu berat karna ini tanggung jawab yang membawa harga diri. Ketika kamu menghianati sebuah komitmen, bukan cuma orang yang kamu khianati yang terluka, tapi harga diri kamu sendiri. Komitmen yang nyata dan yang benar ada serta yang memang dihalalkan ya cuma “pernikahan”. Oleh karenanya, pernikahan itu hanya bisa dilaksanakan untuk yang sudah baligh saja, alias yang sudah berakal. Karena hitungannya, ketika dia sudah berakal dia sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Mana tanggung jawab dan mana kewajiban.

      Dan kebanyakan dari mereka tentunya sudah memiliki usia yang cukup dan pola piker dewasa yang mana sudah tidak seperti anak-anak lagi. Selain itu usia juga menjadi factor, semakin tua usianya “biasanya” dan “seharusnya” kedewasaannya semakin bertambah karena masa iya sih di usia udah mau 30 misalnya masih aja kerjaannya nongkrong sama temen dan gamau menikah atau berkomit membangun keluarga?

      Bagi aku menjalankan komitmen selain menikah itu perkara yang bahaya banget. Itu berarti kita mempertaruhkan hal yang paling berharga dalam hidup kita. Uang? Bisa di cari, tapi Waktu. Waktu yang sudah terbuang tidak akan pernah kembali. Coba kamu bayangin kamu berkomitmen udah selama tiga tahun, tau-taunya orang tuanya tidak setuju…gimana? Ya masih bisa di putuskan kan? Karna memutuskan komitmen itu tidak berdosa ehhe. Coba kalau pernikahan, pernikahan ketika ada masalah masa mau cerai? Cerai memang hal yang Allah SWT benci namun tidak dilarang. Tapi gak mungkin kan?.

      Tapi bukan jadinya malah menghalalkan nikah buru-buru soalnya gak bisa putus kan? Nah, makanya perlunya kesadaran diri dan pasangan akan tujuan pernikahan. Jika tujuan pernikahan adalah ibadah dan karena Allah, selain itu karena ingin berkumpul di Jannah misalnya, inshaAllah kamu dan pasangan akan berorientasi kesana, jadi saat ada masalah internal atau eksternal masih berusaha buat cari jalan keluar, bukan malah lari dan malah cari orang baru.

      Aku emang bukan orang yang sudah menikah disini, tapi aku cuma mengeluarkan pendapatku saja sebagai orang yang belum menikah atas kejadian-kejadian yang menimpa mereka yang belum menikah.

Banyak sekali orang yang lebih tua sering menasehatiku:

-nikah, emang dikira gampang? Mau acaranya aja kamu puyeng nanti. Keluarga mu minta gini, keluarga suamimu minta gitu.
- kamu nanti bersuami jangan ngarep nanti adem-adem aja, pasti akan ada batu kerikil kecil dari luar mah. Kayak iparmu misalnya yang kebiasaannya beda, atau tantenya dia, pokoknya siap aja.
- punya suami itu gak gampang. Kamu harus layanin mereka, beribadah. Ikhlas, makanya harus tau konsep dimana semua yang kamu lakuin itu udah masuk perkara dosa dan pahala


     hmmm, aku sendiri menangkap perkataan mereka dengan hal positif aja sih karna pasti semua perkataan mereka bisa disanggah dengan perkataann,"gausah dibawa ribet,ya jalanin aja." right? cuman, disitu mereka cuma mengingatkan bahwa segala sesuatu gak se simple yang terlihat :).

well, jadi...masih mau berkomitmen dengan selain komitmen pernikahan?

mohon maaf atas kata-kata yang kurang berkenan. Begitu pula dengan pendapatku yang mungkin gak disetujui bahkan disukai oleh para pembaca sekalian, sekian terimakasih. Wassalamualaikum :) 

Saturday, December 28, 2019

Let Me End This


Sabtu, 28 Desember 2019 09;44

   Assalamualaikum, Hi readers! Hi teman-teman prodiku, gimana kabarnya? Semoga baik-baik saja. Baik-kan? Bagaimana sudah siap semua wisudanya? Jangan sampai kesiangan dan make up berantakan ya . Selamat atas gelar mu, semoga berkah! Aamiin

    Hari ini Sabtu, 28 Desember 2019. Hari dimana mungkin seharusnya aku datang kesana menyelamati puluhan temanku yang sedang menggunakan toga. Pagi ini sama seperti hari-hari sebelumnya, gelap, mendung tapi tidak untuk hatiku.

  Sesungguhnya berat untuk berpura-pura baik, karena memang aku baik-baik saja jadi tak perlu aku berpura-pura. Hanya mungkin ada sedikit rasa sedih dan sakit yang masih terasa. Tapi Alhamdulillah aku bisa mengatasinya.

   Selepas shalat dua rakaat, aku panjatkan do’aku pada Allah Tuhanku yang Maha Agung. Aku ucapkan maaf atas ujian terdahulu yang mungkin saat itu aku tidak lolos sehingga aku harus di uji dengan cobaan yang sama sekarang. Aku katakan bahwa aku sudah ikhlas dengan semua ini, aku katakan bahwa aku begitu yakin tentang kepahitan yang aku alami saat ini yang kelak akan terbayar dengan manis yang berlipat-lipat hingga aku lupa bahwa aku pernah menelan kepahitan sepahit sekarang ini. Aku katakan bahwa aku ikhlas dengan semuanya, aku berusaha untuk merelakan apa yang terjadi pada diriku ini. Aku berharap selepas perjalanan panjang dalam terowongan yang gelap ini, Allah memberikan cahaya yang begitu terang diujung sana. AKu berharap di ujung sana terdapat secawan air yang dapat membasuh dahaga yang begitu menyiksa ini, hingga aku lupa bahwa aku pernah begitu haus seperti saat ini.

   Sekali lagi aku pejamkan mata, meresapi pipiku yang mulai basah. Aku bisikan kepada Tuhan permintaan maafku untuk ayahku disana. “Maaf, maafkan aku bi, aku gagal untuk kedua kalinya. Aku tertunda untuk kedua kalinya. Ya Allah, sampaikan kepadanya bahwa aku rindu padanya. Maaf aku tak bisa membuat ia bangga atas diriku, aku tak bisa menggapai apa yang dia harapkan.”

    Aku tumpahkan segala sedihku saat itu. Aku bersujud menangisi diriku yang tidak pernah bersyukur ini. Tuhan, maafkan aku yang senantiasa selalu mengeluh. Aku lupa bahwa masih banyak orang diluar sana yang tidak seberuntung aku. Mereka harus terputus sekolah karena biaya dan lebih memilih untuk menjadi pekerja serabutan tetapi aku…. Aku masih bisa berjuang untuk titik akhir ini dengan dukungan dari kedua orang tuaku tersayang dan sahabat serta teman-temanku.

    Ya Allah, aku percaya.....tidak ada kata terlambat, yang ada hanya belum waktunya saja . Terimakasih telah memberikanku ujian demi ujian agar aku bisa terus menaiki puncak level tertinggi kehidupan.

    Selamat untuk teman-temanku angkatan 2015. Semoga gelar dan ilmu yang sudah di dapat bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya. Aamiin

Untuk umiku:
Umiku, maafkan anakmu ini yang belum bisa memberikan sedikitpun kebanggaan yang bisa kau sebutkan dihadapan teman-temanmu. Maafkan aku.

Thursday, December 19, 2019

Unforgettable Words 2019 #1


    Assalamualaikum readers! semoga kabar kalian baik-baik aja ya ketika lagi visit blog aku ini. Kali ini aku memposting tentang kalimat-kalimat dari orang-orang yang pernah ada di hidupku selama 2019 yang gak bisa aku lupain sampe detik dimana aku posting, untuk yang di kutipkan (") itu kalimat mereka dan yang di dalam kurung ( ) itu komentarku. Semoga ini menjadi album kenangan bahwa ada memang orang-orang yang bisa mengucapkan "kalimat ajaib" ini. Well, ini dia:


“selamat ulang tahun Aisya……semoga (isi sendiri)….Aamiin.”
(alhamdulillah masih inget, sampe masih ada di kalender google, makasih 😊)

“lang gamau ke mcd? Kayaknya hari ini lu ultah kwkwkwk”
(gak mau, nanti parkirnya pake ovo lagi ☹ )

“aisah selamat ulang tahun, maaf ya kuenya gini”
( :’’’ you know? Kamu inget aja aku terharu)

“jadi aku harus hidup di Tangerang aja gitu?”
(……………………)

“aku butuh teman-temanku”
(…………………………………..)

“aku gaenak sama adikku kan dia mau pesantren masa abangnya pacaran”
(………………………………..)

"nanti rumahnya pengennya gini)
(...................................................)

“sah bukain bloknya, gue mau silaturahmi”
(halah silaturahmi kan ga harus sama saya, tetangga sampean banyak)

“selamat ulang tahun Aisyah, semoga lancar semuanya, diberikan jodoh yang baik oleh Allah, Aamiin”
(terimakasih :’), maaf belum bisa memberi apa-apa)

“sah dirumah ga?”
(ready and steady!)

“kuyyy….”
(kuylah!!!)

“kuyyyyyy”
(kuyyyyyyy)

“oh aku naik motor terus aku titipin baru naik bis”
(aku kira kamu pp pure motor-an dari planet sana ke Jaksel hehe)

“alhamdulillah dari smp gak pacaran”
(ini baru definisi,”kamu terlalu alim” untuk aku, tapi aku butuh bimbingan ke jalan lurus, gimana dong? ☹)

“elu sih kalo di whatsapp balesnya seabad”
(mohon maklum, life crisis bales whatsap ingetnya background masalah)

“seh gimana miss XXXX ?”
(gitu aja, ga diread 😊 )

“seh lu wa di bales ga?”
(engga nih, sedih ya, engga sih udah biasa kok ga dibales ama cewe mah)

“lu besok ke kampus ga?”
(kampus itu apa?)

“iya gue lagi dijalan”
(geece!!!)

“dikit lagi ini bab 4”
(yah abang siding duluan ☹ *saya berjuang sendirihhh)

“revisi…revisi….revisi”
(baik miss 😊)

“kamu teh mempermainkan saya?”
(masyaAllah miss!! Saya perempuan! Masa saya mau mempermainkan perasaan sesama gender?! Cukup saya aja miss di janjiin semanis muka miss, eaee :* )

“udah kamu realistis aja”
(iya miss, tau aja saya pengen jadi artis)

“sabar….sabar…..”
(apa? mabar?)

“sah ngopi kuy”
(kuylah, dua gelas biar ga tidur lu ampe jam dua wkwkwk)

“sah kuylah”
(kuyyyyy)

“gue libur nih”
(yaudah kalau libur banyakin belajar)

“sah diajakin ngopi”
(Raisa?)

“otw sah”
(iya otw aja*masih pake bedak)

“sah… ppppppppppp gue depan rumah….ppppppppppppp(399x)”
(iya, bentar, salim dulu, matiin kompor, cuci piring, bersihin gayung, umroh!!)

“ya Allah sye… mam XXXXX…”
(alhamdulillah, sejak bimbingan dengan beliau, kita semakin sering menyebut nama Allah 😊 )

“eh sye ada undangan”
(iya invite aja nanti di acc)

“besok dateng ya jam sepuluh, inshaAllah lamaran(besok: Minggu, Skrg: sabtu)”
(emang susah image freelance ceo pengacara mah, ngasih undangan H- berapa jam doang)

“makanya nanti nyari yang sayang sama Aqil”
(lah kan nanti hidupnya sama aku makkk bukan sama Aqil, tapi bener juga sih)

“iyalah kamu aja jalan-jalan terus, yang kayak gitu mah ga pernah serius”
(yah namanya juga di iming-imingin kebahagiaan mak, anak yang diculik di iming2in permen juga mana nyangka bakal di bawa jauh)

“iya Aamiin semoga berkah”
(Aamiin)

“gue lebih seneng di depan si dari pada jadi penumpang”
(aku ikutin aja, supaya kamu nyaman 😊 abis itu aku tinggallll hahahaha)

“jamilah…jamilah…jamilah… Thank you”
(pak tolong, saya ga punya kamus Bahasa Arab)

“udah gak apa-apa, kamu berjuang saja. Ini sayang kalau nilainya jelek. Mereka yang terburu-buru ingin semua selesai juga kadang suka gatau mau ngapain pas udah kelar”
(Alhamdulillah Allah karuniakan kakak yang lebih tua usia dan kematangannya serta pengalamannya lebih dari saya 😊 )

“gue takut kehilangan temen diskusi”
(jadi aku Cuma temen aja? Selama ini kita makan bareng itu apa?!)

“tetehhhh…..”
(pura-pura jadi tembok)

“ih kurusan”
(ndasmu, Cuma turun empat kilo 😊)

“cita-cita kurus, malem-malem makan”
(iya kirain itu air putih, tau-taunya nasi goreng)


Alhamdulillah, udah selesai nih muter ingetan selama setahunnnya. Menurut kamu kalimat yang mana yang paling bikin sebel dan bikin kamu seneng? aku sih kalimat janji janji manis yang paling bikin sebel dan kalimat harapan, doa dan motivasi yang paling bikin seneng :)

Awal Sebuah Perjalanan

November 2023 Aku kembali membuka laman Instagramku. Puasa sebulan dari sosial media tersebut membuatku sedikit berlega diri. Di usia yang s...